17
Juli 2009 pukul 12.05 WIB – 18 Juli 2009 pukul 04.25 WIB
Baru saja kereta api mulai
bergerak saya sudah sangat takjub.
Apa yang saya lihat dan rasakan
benar-benar tak pernah terbayangkan sama sekali.
Berdiri di kereta api ekonomi
jurusan Jakarta – Surabaya benar-benar membuka mata saya akan kehidupan.
Bangku kereta yang notebene
hanya diisi 3 orang, diisi sekeluarga bahkan hingga berlima orang. Bisa jadi
kehabisan tiket seperti kami, bisa juga untuk menghemat biaya.
Ada meja didekat jendela
diantara bangku yang berhadap-hadapan, tak jarang pula meja itu diduduki oleh
penumpang karena sudah tak ada lagi bangku.
Jalan di tengah antara bangku
kiri dan kanan seharusnya kosong karena digunakan untuk mobilitas petugas
pengecekan tiket, dan untuk jalan bagi penumpang yang akan turun, namun sangat
padat dengan penumpang.
Disanalah kami berdiri.
Berdempet dengan banyak
penumpang lain. Untungnya carier sudah kami tempatkan di kabin yang kebetulan
penumpang yang duduk dibangku dekat kami berdiri tidak membawa barang, jadi
dengan leluasa kami memakai kabin. Ga kebayang kalau kami berdiri sambil
memegang carier yang diletakkan diantara kedua kaki. Capeknya ga ketulungan.
Karena kami berdiri tanpa beban, jadinya kami bisa mengganti gaya berdiri
setiap saat agar ga terlalu capek.
Bagaimana kalau meletakkan tas
di bawah bangku?
Ada yang bertanya seperti itu?
Inilah hebatnya kereta api
ekonomi di Indonesia!
Bawah bangku sudah terisi
dengan penumpang yang tidur beralaskan koran bekas.
What?
Tidur dikaki orang ???
Seperti itulah keadaannya!
**********
Bagi sebagian besar diantara
kami , ini adalah pengalaman pertama naik kereta api kelas ekonomi dan bagi
anggota tim yang sudah pernah pun, ini adalah pengalaman pertamanya naik kereta
api kelas ekonomi, berdiri, plus dengan kepadatan penumpang yang tinggi.
Wajar saja, karena hari
Seninnya adalah hari libur, jadi banyak pekerja dan mahasiswa yang memanfaatkan
jasa angkutan ‘murah-meriah-muntah’ ini untuk mudik.
Dari Stasiun Kota sampai
Jatinegara kami masih bisa duduk, karena penumpangnya belum semua naik.
Sampainya di Jatinegara, ada ibu-ibu dan mas-mas yang bilang bahwa bangku yang
kami duduki adalah tempat mereka, dan akhirnya kami serahkan dan kami pun
bersiap untuk berdiri.
Tapi ibu-ibu dan mas-mas ini
sangat baik, mereka rela sempit-sempitan membagi tempat duduknya untuk kami. Ga
tega mungkin liat cewek-cewek cantik berseragam merah berdiri sementara mereka
berlapang-lapang.
Alhamdulillah, rezeki anak
sholehah :D
Akhirnya 4 orang dari kami
dapat duduk, meskipun secara teknis hanya 3 orang yang duduk,dan 1 orang harus
berdiri berganti-gantian. Tetapi cukup menghemat tenaga kami. Sementara 2 orang
lainnya memutuskan untuk menyusuri gerbong mencari lowongan bangku kosong.
*hayoo... siapa tuuw yang
keliling gerbong sambil cuci mata..........asseehhhh*
Setelah 5 jam perjalanan, tiba
di Stasiun Cirebon, ada satu keluarga yang turun. Akhirnya, dengan sedikit
pertempuran sengit dengan penumpang lain, tanpa ada pertumpahan darah, kami
mendapat 2 bangku.
Jadi, anggota tim yang dapat
duduk hanya 5 orang, meskipun berdempet-dempetan.
Tuya’ a.k.a Korla tak mendapat
bangku. Entah karena merasa bertanggung jawab terhadap anggota tim, entah
karena memang porsi tubuh yang tidak memungkinkan untuk duduk nyelip-nyelip
seperti saya. Karena kalau Tuya’ yang duduk mungkin cuma berempat dari kami
yang bisa duduk.
*Hihihihi...... Cuma becanda
Tuy.... jangan masukin ke hati yaa.. masukin ke laci aja, trus ditutup
rapat-rapat :D
Akhirnya Tuya’ ikut lesehan di tengah-tengah
gerbong bersama penumpang lainnya. Tak jarang kaki Tuya’ terinjak–injak dan
dilangkahi penumpang yang lalu lalang.
Dunia per’gembel’an memang
kejam!
17 jam lebih didalam kereta api
yang sesak dan dingin saat malam hari, tentu saja membuat kami lapar dan bosan.
Bosan bisa saja dihalau dengan
melihat keluar jendela, tidur, atau memperhatikan karakter-karakter penumpang
yang beragam. Tetapi jika lapar yang melanda? Ini yang jadi masalah.
Akhirnya kami menemukan solusi
untuk lapar kami. Pedagang asongan!
Yaa.. kereta api ternyata
menjadi lebih sempit karena bejubelnya pedagang asongan.
Tak peduli gerbong sempit dan
penuh, mereka tetap memaksakan diri untuk lewat sambil menjajakan dagangan. Mulai dari minuman, nasi goreng atau nasi yang dibungkus daun, Pop Mie, penjual kopi,dll
Pedagang asongan lah yang
menjadi hiburan utama kami!
Kenapa? Karena cara menawarkan
dagangan mereka dengan logat Jawa yang medok buanget! :D
Tidak bermaksud untuk SARA tetapi
logat mereka benar-benar lucu bagi kami.
“...mijon ne mbak mijon...”
~ maksudnya minuman Mizone
Hihihi...... mijon! :D
"...cangcimen cangcimen cangcimen..."
kalau yang ini semua pada tahu yaa... (^_^)v
Pedagang asongan favorit saya
adalah pedagang Pop Mie!
Angin malam yang dingin, perut
yang lapar, duduk yang sempit-sempitan, memang paling sempurna
sambil makan Pop Mie Panas!
Selama 17 jam di kereta, entah
berapa kali sudah saya makan Pop Mie, saya lupa menghitung.
Beberapa kali makan, selalu
saja saya tergiur untuk makan lagi setiap pedagang Pop Mie yang lain lewat di gerbong
kami.
Tetapi saya tahan, saya tak mau
jatuh sakit karena petualangan baru saja dimulai.
Hingga saat ini, setiap saya
makan Pop Mie saya akan teringat kenangan Seruni. Atau sebaliknya, jika saya
merindukan suasana Petualangan Seruni, saya akan makan Pop Mie!
Heheee...... jadi doyan Pop Mie
gara-gara Seruni :D
Salut saya dengan perjuangan para pedagang asongan di kereta. Pekerjaan mereka tak mengenal waktu. Mau itu tengah malam, subuh, atau siang, setiap jadwal kereta api lewat di daerah mereka, mereka akan selalu standby dan naik kereta untuk menawarkan dagangan. Tidak hanya kaum pria, Ibu-ibu pun ada saya jumpai. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk, mereka tetap semangat keliling gerbong kereta.
Selain pedagang asongan, yang membuat saya takjub, ternyata ada pengamen wanita 'KW' dengan kostum kebaya, bawahan batik dan berhijab.
Perjuangan hidup setiap orang memang berbeda-beda.
Saya begitu takjub dengan apa yang saya lihat di kereta api ini.
Itulah manfaatnya melakukan perjalanan, kita akan dibukakan matanya terhadap dunia. Mengingatkan kita bahwa akan Kebesaran Yang Maha Kuasa.
Salut saya dengan perjuangan para pedagang asongan di kereta. Pekerjaan mereka tak mengenal waktu. Mau itu tengah malam, subuh, atau siang, setiap jadwal kereta api lewat di daerah mereka, mereka akan selalu standby dan naik kereta untuk menawarkan dagangan. Tidak hanya kaum pria, Ibu-ibu pun ada saya jumpai. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk, mereka tetap semangat keliling gerbong kereta.
Selain pedagang asongan, yang membuat saya takjub, ternyata ada pengamen wanita 'KW' dengan kostum kebaya, bawahan batik dan berhijab.
Perjuangan hidup setiap orang memang berbeda-beda.
Saya begitu takjub dengan apa yang saya lihat di kereta api ini.
Itulah manfaatnya melakukan perjalanan, kita akan dibukakan matanya terhadap dunia. Mengingatkan kita bahwa akan Kebesaran Yang Maha Kuasa.
**********
Tuya’ yang duduk lesehan punya
cerita sendiri.
Ada anak usia 4 tahunan duduk
disebelah dia. Ijen namanya. Ijen berdua dengan Pak De nya duduk lesehan karena
tak lagi dapat tiket duduk seperti kami.
Ijen ini anak yang pintar. Lebih
dari 12 jam lesehan di kereta yang sesak, tanpa orang tua, jangankan menangis,
yang ada justru Ijen membuat heboh satu gerbong dengan suara cemprengnya,
meneriaki setiap orang yang secara tidak sengaja menghimpit atau menginjak
kakinya.
“ Pak, sepuluh rebu pak.. kaki
saya keinjek ni.. bayar sepuluh rebu..”
Sontak saja semua penumpang
yang mendengar tertawa.
Saya yang penasaran akhirnya
ikut juga lesehan sebentar didekat Tuya’. Sempat juga kami bercengkrama dengan
Ijen.
Semoga kita bisa berjumpa lagi
ya Ijen. Tentu akan kami terima untuk bergabung di Tim Seruni D.
**********
Saya yang capek duduk, terkadang
iseng keliling gerbong, sekedar melepas penat karena kebanyakan duduk sekaligus
ingin melihat-lihat suasana gerbong lain.
Tanpa disadari, ternyata kereta
sudah sampai di Stasiun Gubeng Surabaya tepat pukul 04.25 WIB.
Kami pun turun dan mencari
bangku untuk sekedar beristirahat sambil mengumpulkan semua carier dan bawaan
kami.
Perjalanan kami selanjutnya
adalah naik kereta api lagi dari Surabaya ke Banyuwangi untuk lanjut
menyeberang ke Pulau Bali, tapi karena masih terlalu subuh belum ada satupun
loket tiket kereta yang buka. Akhirnya kami pun menunggu.
Kami memanfaatkan waktu
menunggu dengan ke toilet, sekedar bersih-bersih setelah perjalanan 17 jam dari
Jakarta dan untungnya toilet di stasiun ini bersih.
Sambil beristirahat dan
menghirup udara Surabaya subuh yang dingin dan sejuk.
Setelah ada loket yang buka,
akhirnya kami beli tiket, TETAPI lagi-lagi kami harus menunggu karena kereta
api tujuan Banyuwangi berangkat jam 09.10. Baiklah.
Pedagang sarapan gerobak di
stasiun Gubeng sudah mulai berdatangan, akhirnya kami memutuskan untuk sarapan
dulu tetapi ganti-gantian karena harus ada yang menjaga tas dan bawaan kami.
Tuya’ dan Novi duluan cari
sarapan ke depan stasiun, dan mereka menemukan Soto Madura.
Kami pun akhirnya makan Soto
Madura yang sama :D
Meskipun hanya sekedar
persinggahan, tetapi setidaknya saya sudah pernah menginjakkan kaki di beberapa
Kota di Pulau Jawa, itupun hanya stasiun keretanya saja :D heheheee....
Note:
Foto-foto akan di update nanti karena saat ini saya sedang mengumpulkan foto yang ada..
nanti datang lagi ke blog ini yaaaa.......
terimakasih
Next.
Seruni Eps. 10
Bali...
we are coming!!

No comments:
Post a Comment