Social Icons

Pages

Wednesday, November 25, 2015

Seruni XPDC Eps.9





 
17 Juli 2009 pukul 12.05 WIB – 18 Juli 2009 pukul 04.25 WIB

Baru saja kereta api mulai bergerak saya sudah sangat takjub.
Apa yang saya lihat dan rasakan benar-benar tak pernah terbayangkan sama sekali.
Berdiri di kereta api ekonomi jurusan Jakarta – Surabaya benar-benar membuka mata saya akan kehidupan.
Bangku kereta yang notebene hanya diisi 3 orang, diisi sekeluarga bahkan hingga berlima orang. Bisa jadi kehabisan tiket seperti kami, bisa juga untuk menghemat biaya.
Ada meja didekat jendela diantara bangku yang berhadap-hadapan, tak jarang pula meja itu diduduki oleh penumpang karena sudah tak ada lagi bangku.
Jalan di tengah antara bangku kiri dan kanan seharusnya kosong karena digunakan untuk mobilitas petugas pengecekan tiket, dan untuk jalan bagi penumpang yang akan turun, namun sangat padat dengan penumpang.
Disanalah kami berdiri.
Berdempet dengan banyak penumpang lain. Untungnya carier sudah kami tempatkan di kabin yang kebetulan penumpang yang duduk dibangku dekat kami berdiri tidak membawa barang, jadi dengan leluasa kami memakai kabin. Ga kebayang kalau kami berdiri sambil memegang carier yang diletakkan diantara kedua kaki. Capeknya ga ketulungan. Karena kami berdiri tanpa beban, jadinya kami bisa mengganti gaya berdiri setiap saat agar ga terlalu capek.
Bagaimana kalau meletakkan tas di bawah bangku?
Ada yang bertanya seperti itu?
Inilah hebatnya kereta api ekonomi di Indonesia!
Bawah bangku sudah terisi dengan penumpang yang tidur beralaskan koran bekas.
What?
Tidur dikaki orang ???
Seperti itulah keadaannya!

**********


Bagi sebagian besar diantara kami , ini adalah pengalaman pertama naik kereta api kelas ekonomi dan bagi anggota tim yang sudah pernah pun, ini adalah pengalaman pertamanya naik kereta api kelas ekonomi, berdiri, plus dengan kepadatan penumpang yang tinggi.
Wajar saja, karena hari Seninnya adalah hari libur, jadi banyak pekerja dan mahasiswa yang memanfaatkan jasa angkutan ‘murah-meriah-muntah’ ini untuk mudik.

Dari Stasiun Kota sampai Jatinegara kami masih bisa duduk, karena penumpangnya belum semua naik. Sampainya di Jatinegara, ada ibu-ibu dan mas-mas yang bilang bahwa bangku yang kami duduki adalah tempat mereka, dan akhirnya kami serahkan dan kami pun bersiap untuk berdiri.
Tapi ibu-ibu dan mas-mas ini sangat baik, mereka rela sempit-sempitan membagi tempat duduknya untuk kami. Ga tega mungkin liat cewek-cewek cantik berseragam merah berdiri sementara mereka berlapang-lapang.
Alhamdulillah, rezeki anak sholehah :D
Akhirnya 4 orang dari kami dapat duduk, meskipun secara teknis hanya 3 orang yang duduk,dan 1 orang harus berdiri berganti-gantian. Tetapi cukup menghemat tenaga kami. Sementara 2 orang lainnya memutuskan untuk menyusuri gerbong mencari lowongan bangku kosong.

*hayoo... siapa tuuw yang keliling gerbong sambil cuci mata..........asseehhhh*

Setelah 5 jam perjalanan, tiba di Stasiun Cirebon, ada satu keluarga yang turun. Akhirnya, dengan sedikit pertempuran sengit dengan penumpang lain, tanpa ada pertumpahan darah, kami mendapat 2 bangku.
Jadi, anggota tim yang dapat duduk hanya 5 orang, meskipun berdempet-dempetan.
Tuya’ a.k.a Korla tak mendapat bangku. Entah karena merasa bertanggung jawab terhadap anggota tim, entah karena memang porsi tubuh yang tidak memungkinkan untuk duduk nyelip-nyelip seperti saya. Karena kalau Tuya’ yang duduk mungkin cuma berempat dari kami yang bisa duduk.

*Hihihihi...... Cuma becanda Tuy.... jangan masukin ke hati yaa.. masukin ke laci aja, trus ditutup rapat-rapat :D

Akhirnya Tuya’ ikut lesehan di tengah-tengah gerbong bersama penumpang lainnya. Tak jarang kaki Tuya’ terinjak–injak dan dilangkahi penumpang yang lalu lalang.
Dunia per’gembel’an memang kejam!

17 jam lebih didalam kereta api yang sesak dan dingin saat malam hari, tentu saja membuat kami lapar dan bosan.
Bosan bisa saja dihalau dengan melihat keluar jendela, tidur, atau memperhatikan karakter-karakter penumpang yang beragam. Tetapi jika lapar yang melanda? Ini yang jadi masalah.
Akhirnya kami menemukan solusi untuk lapar kami. Pedagang asongan!
Yaa.. kereta api ternyata menjadi lebih sempit karena bejubelnya pedagang asongan.
Tak peduli gerbong sempit dan penuh, mereka tetap memaksakan diri untuk lewat sambil menjajakan dagangan. Mulai dari minuman, nasi goreng atau nasi yang dibungkus daun, Pop Mie, penjual kopi,dll
Pedagang asongan lah yang menjadi hiburan utama kami!
Kenapa? Karena cara menawarkan dagangan mereka dengan logat Jawa yang medok buanget! :D
Tidak bermaksud untuk SARA tetapi logat mereka benar-benar lucu bagi kami.

“...mijon ne mbak mijon...”  
~ maksudnya minuman Mizone
Hihihi...... mijon! :D

"...cangcimen cangcimen cangcimen..."
kalau yang ini semua pada tahu yaa... (^_^)v

Pedagang asongan favorit saya adalah pedagang Pop Mie!
Angin malam yang dingin, perut yang lapar, duduk yang sempit-sempitan, memang paling sempurna sambil makan Pop Mie Panas!
Selama 17 jam di kereta, entah berapa kali sudah saya makan Pop Mie, saya lupa menghitung.
Beberapa kali makan, selalu saja saya tergiur untuk makan lagi setiap pedagang Pop Mie yang lain lewat di gerbong kami.
Tetapi saya tahan, saya tak mau jatuh sakit karena petualangan baru saja dimulai.
Hingga saat ini, setiap saya makan Pop Mie saya akan teringat kenangan Seruni. Atau sebaliknya, jika saya merindukan suasana Petualangan Seruni, saya akan makan Pop Mie!
Heheee...... jadi doyan Pop Mie gara-gara Seruni :D

Salut saya dengan perjuangan para pedagang asongan di kereta. Pekerjaan mereka tak mengenal waktu. Mau itu tengah malam, subuh, atau siang, setiap jadwal kereta api lewat di daerah mereka, mereka akan selalu standby dan naik kereta untuk menawarkan dagangan. Tidak hanya kaum pria, Ibu-ibu pun ada saya jumpai. Tanpa mempedulikan dingin yang menusuk, mereka tetap semangat keliling gerbong kereta.

Selain pedagang asongan, yang membuat saya takjub, ternyata ada pengamen wanita 'KW' dengan kostum kebaya, bawahan batik dan berhijab.

Perjuangan hidup setiap orang memang berbeda-beda.
Saya begitu takjub dengan apa yang saya lihat di kereta api ini.
Itulah manfaatnya melakukan perjalanan, kita akan dibukakan matanya terhadap dunia. Mengingatkan kita bahwa akan Kebesaran Yang Maha Kuasa. 

**********

Tuya’ yang duduk lesehan punya cerita sendiri.
Ada anak usia 4 tahunan duduk disebelah dia. Ijen namanya. Ijen berdua dengan Pak De nya duduk lesehan karena tak lagi dapat tiket duduk seperti kami.
Ijen ini anak yang pintar. Lebih dari 12 jam lesehan di kereta yang sesak, tanpa orang tua, jangankan menangis, yang ada justru Ijen membuat heboh satu gerbong dengan suara cemprengnya, meneriaki setiap orang yang secara tidak sengaja menghimpit atau menginjak kakinya.
“ Pak, sepuluh rebu pak.. kaki saya keinjek ni.. bayar sepuluh rebu..”
Sontak saja semua penumpang yang mendengar tertawa.
Saya yang penasaran akhirnya ikut juga lesehan sebentar didekat Tuya’. Sempat juga kami bercengkrama dengan Ijen.
Semoga kita bisa berjumpa lagi ya Ijen. Tentu akan kami terima untuk bergabung di Tim Seruni D.

**********

Saya yang capek duduk, terkadang iseng keliling gerbong, sekedar melepas penat karena kebanyakan duduk sekaligus ingin melihat-lihat suasana gerbong lain.
Tanpa disadari, ternyata kereta sudah sampai di Stasiun Gubeng Surabaya tepat pukul 04.25 WIB.

Kami pun turun dan mencari bangku untuk sekedar beristirahat sambil mengumpulkan semua carier dan bawaan kami.
Perjalanan kami selanjutnya adalah naik kereta api lagi dari Surabaya ke Banyuwangi untuk lanjut menyeberang ke Pulau Bali, tapi karena masih terlalu subuh belum ada satupun loket tiket kereta yang buka. Akhirnya kami pun menunggu.
Kami memanfaatkan waktu menunggu dengan ke toilet, sekedar bersih-bersih setelah perjalanan 17 jam dari Jakarta dan untungnya toilet di stasiun ini bersih.
Sambil beristirahat dan menghirup udara Surabaya subuh yang dingin dan sejuk.
Setelah ada loket yang buka, akhirnya kami beli tiket, TETAPI lagi-lagi kami harus menunggu karena kereta api tujuan Banyuwangi berangkat jam 09.10. Baiklah.
Pedagang sarapan gerobak di stasiun Gubeng sudah mulai berdatangan, akhirnya kami memutuskan untuk sarapan dulu tetapi ganti-gantian karena harus ada yang menjaga tas dan bawaan kami.
Tuya’ dan Novi duluan cari sarapan ke depan stasiun, dan mereka menemukan Soto Madura.
Kami pun akhirnya makan Soto Madura yang sama :D

Meskipun hanya sekedar persinggahan, tetapi setidaknya saya sudah pernah menginjakkan kaki di beberapa Kota di Pulau Jawa, itupun hanya stasiun keretanya saja :D heheheee....


Note:
Foto-foto akan di update nanti karena saat ini saya sedang mengumpulkan foto yang ada..
nanti datang lagi ke blog ini yaaaa.......
terimakasih


 

Next. Seruni Eps. 10
Bali... we are coming!!

No comments:

Post a Comment

 
Blogger Templates