FILOSOFI RUMAH GADANG
Menurut H.Dj.Dt.Lubuak Sati, salah seorang tim ahli pembangunan Istano Basa Pagaruyuang, konstruksi rumah gadang tidak sama dengan bangunan lainnya. Setiap bagian rumah gadang mempunyai nilai dan filosofi yang berhubungan dengan alam dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Misalnya tonggak berdiri agak miring dan hanya satu buah yang tegak lurus yang disebut dengan tunggak tuo yang terletak dibagian tengah rumah. Semua ujung tonggak yang miring dan lurus itu apabila diteruskan kebawah maka akan bertemu pada satu titik didalam bumi yang disebut dengan maantak ka pitalo bumi.
Kemudian sebuah gonjong yang benar bila dilihat dari kejauhan akan berbentuk bagian dari sebuah lingkaran besar. Ujung-ujung lingkaran itu, tagantuang ka pitalo langik.
Karena bagian bawahnya sudah diikatkan ke perut bumi dan bagian atasnya diikatkan ke puncak langit, maka rumah gadang akan tahan gempa, demikian filosofinya.
Kata Pak Malin, tim ahli pembangunan Istano Basa Pagaruyuang, yang meninggal hari minggu 1 Januari 2012 lalu, sebuah rumah gadang selain tahan gempa biasanya juga tidak pernah rubuh. Kalaupun sudah tua, paling-paling kayunya lapuk atau atapnya tiris.
Keterangan lebih lanjut tentang siapa Pak Malin, klik link...
http://jaguankblog.blogspot.com/2012/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_03.html
Ini juga ada filosofinya, yaitu sebuah rumah gadang memakai sasak dan jarajak pada dindingnya sehingga angin yang menerpa bisa terpecah dan tersalurkan. Itulah salah satu bahan kuliahnya kepada para ahli arsitek dari Amerika dan Jerman, dan ternyata mereka juga mengakuinya.
Membangun rumah gadang selain rumit juga mempunyai tahaoan-tahapan yang perlu dilalui. Bahkan juga ada tahapan untuk memenuhi kewajiban secara supranatural, seperti adanya upacara bakaua, baratik karu-karu, mancacah paek, batagak tonggak tuo, manurang, mambanda ayam, manyandi, batagak kudo-kudo, manaiki rumah, dan lain sebagainya. Upacara ini bukan suatu kewajiban, akan tetapi biasa dilakukan sejak masa nenek moyang dahulu dan kurang syarat rasanya apabila diabaikan.
Oleh karena itu, berbanggalah kita sebagai orang Minangkabau yang memiliki budaya yang begitu kaya dan sarat makna.
Semoga generasi muda Minangkabau tetap menjaga budaya sendiri dan selalu mencintainya dimanapun mereka berada. Amin.
Dikutip dari Singgalang,edisi 3 Januari 2012
Oleh : Alfian Jamrah

No comments:
Post a Comment