Zekardah
15
Juli 2009
“.... ya ampun, nggak ada
langit birunya..”
Kalimat inilah yang pertama
kali keluar dari mulut beberapa orang tim seruni ketika menginjakkan kaki di
ibukota negara ini. Bahkan untuk melihat matahari langsung tak perlu takut akan
menyilaukan mata, karena selain lapisan ozon yang menahannya, entah berapa
kubik ketebalan kabut dan asap yang menutupi kota metropolitan ini.
Saya yang lahir ditepi pantai
di pelosok Lampung sana, besar di sebuah desa kecil dipinggiran Kota
Bukittinggi dan kuliah di kampus Unand yang bak taman Nirwana, sangat bersyukur
selama ini tinggal di daerah dengan udara yang segar dan sehat.
Melihat Jakarta dengan tingkat
polusi yang begitu mengerikan ini, terlintas di fikiran kenapa sangat banyak
orang yang memilih mengadu nasib ke Jakarta, padahal dengan penduduk yang sudah
ada saja begitu padatnya. Belum lagi jumlahnya yang akan bertambah pada jam
kerja oleh karyawan, pekerja buruh atau mahasiswa yang berasal dari daerah
sekitar Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang beraktifitas di Jakarta, namun
dengan alasan biaya hidup yang lebih murah, lingkungan yang lebih nyaman dan
memang tempat tinggal mereka sebelumnya, orang-orang ini memilih tinggal diluar
Jakarta. Ada yang datang dari Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor, dan daerah
lainnya.
Jakarta memang penuh dinamika
dan sudah terasa bagi kami meskipun kami disini hanya beberapa hari saja.
Kesepakatan kami adalah ekspedisi
akan dimulai dari daerah yang paling jauh yaitu Lombok dan berlanjut mundur ke
Bali, mundur lagi ke Malang. Jadi datang ke Jakarta ini hanya persinggahan
sementara dan dari Jakarta lah kami akan memulai pertualangan dengan perjalanan
darat ke Lombok. Tetapi karena keberangkatan Burin terlambat maka kami akan
menunggu semua tim berkumpul dulu di Jakarta ini.
Tiga hari di Jakarta, kami menginap
di Mes WALHI Jakarta. Karena KOMMA adalah anggota jaringan WALHI, jadi kami
bisa menginap dengan gratis disini. Sebelumnya tentu saja kami sudah
menghubungi terlebih dahulu pihak WALHI tentang kedatangan kami.
Mencari penginapan gratis
disetiap kota yang kami kunjungi bertujuan untuk meminimalkan pengeluaran yang
tentu saja akan sangat membantu ekspedisi ini. Beruntung kami membawa nama
organisasi KOMMA sehingga dapat diterima organisasi lain seperti WALHI dan
tentu saja juga diterima oleh organisasi Mahasiswa Pencinta Alam di setiap
kampus persinggahan kami.
Jadi sudah dapat dipastikan,
biaya menginap kami adalah ZERO !
16
Juli 2009
Tidak ada jadwal khusus hari
ini, hanya silaturrahmi ke kantor WALHI Eksekutif Nasional.
Setiba dikantor WALHI kami
disambut oleh Bang Erwin dan Bang Mukri yang merupakan staf WALHI pada saat
itu, tetapi sayang sekali kami tak dapat bertemu dan menyampaikan salam dari
organisasi untuk Direktur Walhi Eknas karena beliau sedang tidak ditempat.
Kegiatan selanjutnya,
mengelilingi Kota Jakarta dengan busway – yang
untuk pertama kalinya saya naiki, ya tentu aja namanya juga pertama kali ke
Jakarta, ditemani oleh Mas Dodo, teman kita dari Walhi Jakarta.
Kami yang notabene berasal dari
daerah tentu saja tak akan melewati kesempatan mengabadikan petualangan ini
dengan berfoto. Tim Seruni Dalang memiliki penyakit selfie akut! Jadi sepanjang
perjalanan mengelilingi Jakarta, Mas Dodo lah yang dengan bersabar menjadi
fotografer kami. Prinsip kami, dimana ada kesempatan disitu kita berfoto dan
tak perlu malu dengan orang banyak, toh mereka tidak kenal kami!
Hahahaha mencari pembenaran...
Dan jangan lupa pose ‘Anak
Hilang’ !!!
Mas
Dodo sampai geleng-geleng kepala..
Kami mengunjungi Monas dan naik
untuk melihat Jakarta dari ketinggian. Juga lokasi-lokasi wisata lainnya.
Pukul 23.00 WIB, Burin yang
baru berangkat dari Padang hari ini akhirnya sampai di Mes Walhi. Pesawat delay
selama 2 jam yang menyebabkan Burin juga telat sampai.
17
Juli 2009
Hari ini kami melanjutkan
perjalanan.
Pukul 08.30 kami berpamitan
pada Bapak – Ibu yang ada di Mes, selanjutnya menuju Kantor Walhi untuk
mengucapkan terimakasih sekaligus berpamitan.
Pukul 09.00 WIB, kami sudah
sampai di Stasiun Jakarta Kota dan langsung menuju loket penjualan tiket kelas
ekonomi jurusan Jakarta – Surabaya.
Novi yang bertugas menyusun
itinerary berkata, “Seperti sudah pernah kesini karena persis sama dengan foto
Stasiun Kota yang ada di buku panduan perjalanan” - yang juga disusun oleh
Novi. Jadi kami tak perlu takur karena semua informasi tentang perjalanan ada
di buku panduan.
thanks to No
Penampakan Guide Book saya saat ini
Masuk kedalam stasiun, ternyata
kami salah informasi! Pada awalnya kami mengira pembelian tiket kereta api
ekonomi di Stasiun Kota, ternyata sebaiknya dibeli di Stasiun Senen, karena
disini jumlahnya terbatas dan kami pun kehabisan tiket duduk.
Tuya’ bertanya pada tim, “kalo
bali tiket bisnis baa?” arti; ‘bagaimana
kalau membeli tiket bisnis saja?’
Dengan pertimbangan bahwa tidak
mau mengundur satu hari lagi di Jakarta dan rasanya tidak ada lagi waktu untuk
pindah ke Stasiun Senen, akhirnya kami pun setuju.
Dan.. naas bagi kami,
petualangan hari pertama sudah dihujani cobaan berat karena tiket kelas bisnis
pun HABIS!
Kembali lagi kami berembuk...
Akhirnya tim memutuskan untuk
membeli tiket Kelas Ekonomi, resiko berdiri 17 jam pun tak jadi masalah.
Daripada berdiri di Kelas Bisnis yang perbedaan harga tiketnya sangat jauh,
sepertinya ini pilihan yang tepat.
Kami berdiri di peron kereta
dan ternyata berdesakan dengan carier dipunggung itu sangat menguras tenaga.
Hingga akhirnya kami masuk kereta dan dapat menempatkan carrier dikabin
penumpang yang tak membawa barang. Masing-masing tim mencari posisi berdiri
yang nyaman dan sedapat mungkin bersandar pada bangku kereta agar tahan hingga
sampai di Surabaya.
Tepat pukul 12.05 WIB, sesuai
jadwal, kereta api Gaya Baru Malam Selatan berwarna kuning – hijau yang kami
tumpangi pun mulai bergerak meninggalkan Jakarta.
Dari sinilah cerita dunia
per’gembel’an kami dimulai!
Yang ingin ikut kami menggembel di kereta Jakarta-Surabaya, nantikan episode berikutnya yaa.....
thanks untuk para pembaca rekan-rekan tercinta saya :D
Next.
Seruni XPDC Eps.9

No comments:
Post a Comment