Social Icons

Pages

Wednesday, October 21, 2015

Seruni XPDC Eps.6



Try Out


Kegiatan try out dilaksanakan untuk menjalin kekompakan setiap anggota tim, dan saling mengenal kepribadian satu sama lain. Karena tidak semua anggota tim pernah melakukan pendakian bersama, dan juga melatih fisik tentunya.
Para pencinta alam tentu sudah faham bahwa karakter asli seseorang akan kelihatan jika ada di alam. Nah, demi mengenal lebih dalam para anggota tim ini maka diadakan try out dan tentu saja akan memupuk rasa kebersamaan dan persaudaraan lebih dalam lagi jika sudah merasa senasib sepenanggungan di lapangan.
Pada awalnya try out direncanakan pada akhir bulan Mei 2009, dengan tujuan Pendakian Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 mdpl. Gunung ini terletak diperbatasan Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.
Tetapi sampai tanggal yang ditetapkan, Gunung Kerinci justru meningkat statusnya menjadi waspada dan tidak diijinkan untuk kegiatan pendakian.
Sedih memang, cita-cita untuk mendaki Gunung tertinggi Sumatera Barat ini harus dibatalkan. Setelah didiskusikan lebih lanjut akhirnya tim sepakat try out dialihkan ke Gunung Talamau, Gunung Tertinggi nomor dua dengan ketinggian 2913 mdpl yang terletak di kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (kalau di laporan perjalanan Seruni tinggi Gn.Talamau itu 2982 mdpl, tetapi tetep aja tertinggi nomor 2 di SumBar :D )
Dengan mempertimbangkan banyaknya kegiatan dikampus, serta ujian akhir semester,akhirnya try out diundur dan ditetapkan pelaksanaannya pada tanggal 12 – 17 Juni 2009.
Kegiatan try out ini tidak sebatas kami tim Seruni yang ikut, kami juga mengundang warga yang ingin ikut pendakian Talamau ini. Begitu banyak peminat Gunung Talamau, akhirnya fix yang berangkat adalah 9 orang. Tim Seruni 6 orang, ditambah cowok-cowok tangguh dari Eiger Maters Padang, David Suharkam, Dedi Ilham, dan Riski Junaidi.

Saya sangat bersemangat dengan pendakian ini. Saya sudah pernah mendaki gunung sebelumnya, beberapa kali. Tetapi tidak setinggi Gunung Talamau. Gunung di Sumbar adalah Gunung Tropis yang lembab dan lebat. Jalur Gunung Talamau lebih lembab dan lebat dari Gunung Merapi yang pernah saya daki. Yang paling saya ingat adalah ada jalur rock climbing lengkap dengan air terjun mininya yang membuat jalur menjadi lebih licin. Untuk naik tidak bisa hanya dengan mengandalkan tangan dan kaki, tak sanggup saya. Akhirnya kami memakai tali. Dengan penuh perjuangan dan akhirnya sampai diatas.

Pos terakhir sebelum puncak, kami berhenti sejenak dan mengisi perut lapar kami dengan madu sachetan dari Novi. Itu untuk pertama kalinya saya ‘ngemil’ madu, ternyata rasanya seperti itu ( hehe.. udik memang saya..)
Semuanya sudah di pos, kecuali 2 orang. Andin dan bang Riski! Mereka masih dibelakang kami.
Kami menunggu beberapa lama di pos terakhir ini. Untungnya ada pondok kecil untuk tempat kami bernaung dari hujan.
2 sachet kecil madu cukup untuk menunda lapar dan menghangatkan tubuh yang kedinginan karena rintik-rintik hujan sedang menyapa kami saat itu.
Hingga habis madu kami hisap..
Akhirnya mereka berdua muncul.
Kami langsung tertawa terbahak-bahak melihat kondisi mereka berdua.
Andin dengan baju yang basah kuyup, wajah yang tampak lapar dan letih. Sedangkan bang Riski dengan jas hujan yang compang-camping. Sobek disana-sini! Dan saya yakin setelah itu jas hujannya akan langsung dimuseumkan karena sudah tak bisa dipakai lagi.
Setelah kami wawancara sedikit ternyata mereka terhambat di jalur rock climbing, sama seperti yang lain. Bang Riski yang membantu Andin untuk dapat naik sehingga jas hujannya banyak tersangkut di ranting-ranting pohon.
Cieee...... si Om romantis.... hahahaha :D
Dari sinilah panggilan ‘Om’ untuk Bang Riski bermula. Kami sering memanggil Tek Ina pada Andin, ‘tek’ adalah panggilan tante dalam bahasa Minang karena Andin punya keponakan yang sama-sama kuliah di Unand.

Jadilah panggilan Om Cucubida dan Etek Ina melekat. Bahkan samapi sekarang pun saya memanggil Bang Riski dengan panggilan ‘Om’.

Nah lo? Kenapa jadi Om Cucubida?
Ini ada lagi ceritanya...
Jadi, saat itu sedang marak iklan cemilan dengan lagu “cub cubida cu bu diaya.....”
*lagu yang tidak kami kenal tetapi terdengar seperti itu*
Dan lagu ini adalah lagu penyemangat tim selama pendakian dan si Om sangat senang saat menyanyikannya, jadi agar lebih semangat lagi, si Om kami panggil Om Cucubida.

Hahahaha :D

Selama berada di lapangan, tim try out menjalankan kegiatan dengan fun. Bukan hanya tim Seruni yang membuat lawakan, tetapi 3 Pria Perkasa inipun ternyata ‘gila’ semua. Ya seperti ‘cucubida’ tadi. Karena mereka adalah orang lapangan mungkin, jadi tahu cara untuk mencairkan suasana, cara mengakrabkan tim, dan tentu saja menjaga kami, para wanita. Lawakan-lawakan mereka ga ada matinya!
Dijamin sakit perut! :D

Saking ‘gila’nya pendakian kami di Gunung Talamau ini, sampai-sampai kami membawa nama tambahan untuk tim ini menjadi Tim Seruni Dalang atau Seruni D.
‘Dalang’ artinya bukan orang yang menggerakkan wayang, kalau itu di Jawa. Karena kami orang Minang jadi Dalang berarti kegilaan, kelucuan, aneh, dan konyol. Bergitulah adanya.

----
Bagi yang ingin mengenal para Tim Seruni D, searching aja di Facebook ‘Seruni Dalang’ nanti akan kalian temui group kami. Tetapi belakangan sudah jarang update karena semuanya sudah sibuk dengan rumah tangga, perkerjaan dan kehidupan masing-masing. Semoga dengan tulisan ini kita kembali meng’gila’kan dunia!
----

Meskipun begitu, tentu saja kami tak melupakan target yang harus kami capai dalam try out ini demi suksesnya Seruni XPDC. Pendakian Gunung Talamau akhirnya berhasil dan kami kembali ke kampus.

Andin punya cerita sendiri tentang pendakian Talamau ini.
Pada tanggal 19 Juni dia ada jadwal ujian MID Semester mata kuliah Teori Akuntansi. Karena di jadwal kepulangan tanggal 17 Juni, jadi masih ada waktu 1 hari untuk belajar dan istirahat. Tetapi, kondisi lapangan memang tak pernah bisa diprediksi. Di Pendakian Talamau ini kami ditemani hujan, meskipun tidak lebat tapi cukup mempengaruhi fisik kami.
Target utama adalah latihan fisik persiapan Seruni, kami tidak ingin memaksakan diri dalam pendakian ini. Jika letih, kami akan istirahat. Akhirnya jadwal kepulangan yang direncanakan mundur 1 hari.
Kami baru sampai di Kota Padang lagi tanggal 19 Juni subuh.
Pagi hari, 19 Juni 2009, seharusnya Andin sudah berada di ruangan ujian, tetapi sepertinya pendakian 1 minggu membuatnya letih, akhirnya dia melewatkan ujian ini. Tetapi, salut untuk Andin, ternyata dia mendapat nilai A.
Bravo !!!! :D

Setelah try out selesai dilaksanakan, tim Seruni mengadakan rapat evaluasi kegiatan. Evaluasi kerja tim dan tentu saja evaluasi personal. Disinilah anggota tim berkesempatan menyampaikan pandangan masing-masing terhadap anggota tim yang lain, kekurangan, kebaikan, minta maaf, apapun yang ingin disampaikan. Sehingga rasa di dalam hati bisa tersalurkan dengan baik. Dengan begini tim akan menjadi solid!



Nengok fotonya bikin kangen!!!!!
:D

Next. Seruni XPDC Eps.7

2 comments:

 
Blogger Templates