Social Icons

Pages

Friday, October 9, 2015

Seruni XPDC Eps.4





“..karena mendung itu berarti bahwa musim semi akan tiba”
Kalimat yang tertulis di laporan perjalanan Seruni halaman 10 ini seperti menceritakan secara singkat perjalanan kami. Begitu banyak pengorbanan, hambatan, dan ujian yang harus kami lalui, akhirnya kami dapat menikmati indahnya kebersamaan, pengalaman dan persaudaraan.
Rentang waktu sekian lama, banyak hal bisa terjadi. Persoalan anggota tim, pencarian dana, kesibukan masing-masing anggota dan lainnya. Tetapi semua itu cukup mendewasakan tim ini, karena kami percaya bahwa mendung itu tak selamanya dan lebatnya hujan yang dibawanya akan menerbarkan bunga-bunga seruni.. J
( kalimat ini disusun oleh Jeng No di laporan Seruni, kayaknya lagi berbunga-bunga yaaa... hahaha asseehhh)

Anggota tim yang terdiri dari 4 orang Anggota Biasa KOMMA dan 2 orang simpatisan (paling simpati - ehem) menjadi tanda tanya oleh warga organisasi. Selama ini, setiap kegiatan ekspedisi dengan skala yang sama hanya dilakukan murni oleh Anggota KOMMA.
Saat topik ini menjadi perdebatan, saya sempat sedih berhubung saya hanya seorang simpatisan organisasi dan saya sudah terlalu semangat untuk ikut ekspedisi. Tetapi saya tidak akan menyerah. Saya tetap berharap bahwa warga akan menyetujui keikutsertaan kami, saya dan Andin. Pembahasan panjang pun dilakukan, dengan berbagai ketentuan dan kesepakatan, hal ini tidak lagi jadi masalah. Lega sekali saya rasanya. Terimakasih saudaraku di organisasi.... J

Cewek semua...?
Pertanyaan ini selalu keluar selama perjalanan dimanapun kami berada, ya Sekretariat Mapala disana, ya dikereta api atau dirumah keluarga yang kami kunjungi..
Pada tanggal 23 Februari 2009, ketika kami mengetahui bahwa seluruh anggota tim adalah cewek, memang agak ganjal, tetapi justru hal ini menambah semangat dan pastinya sudah terbayangkan hal-hal seru yang nanti akan kami lakukan. Disamping beberapa hal yang harus kami persiapkan lebih ekstra, kesiapan fisik dan mental setiap anggota tim.
Gender problem di bumi Indonesia ini memang sudah biasa karena memang masih banyak yang mempertanyakan emansipasi wanita. Pemimpin wanita, petinju wanita, sampai tim ekspedisi wanita yang menyeberang dari Sumatera ke Nusa Tenggara tanpa se pria pun.
Suatu hari, saya berjalan-jalan ke Gramedia, sepertinya langkah saya memang sudah diarahkan olehNYA untuk menemukan sebuah buku ekspedisi, yang semua anggotanya wanita. ‘ANNAPURNA’ – judul buku itu yang ditulis oleh Arlene Blum. Kisah dramatis ekspedisi wanita pertama ke Himalaya.


Prakata Untuk Edisi Ulang Tahun ke Dua Puluh
Pada 1978, tim kami yang terdiri dari 13 wanita berangkat ke Nepal untuk mendaki Annapurna I, salah satu puncak raksasa yang sulit dan berbahaya di Pegunungan Himalaya. Ketika gagasan untuk mendaki muncul, semua puncak dengan ketinggian 8.000 meter sudah ditaklukkan oleh pria, tetapi belum satupun yang ditaklukkan oleh wanita. Banyak orang – pria maupun wanita-percaya bahwa tim pendaki wanita kurang memiliki ketangguhan, keterampilan, dan keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan pendakian seperti itu. Meskipun dihadang badai, longsoran  es, dan pemboikotan para Sherpa, kami berhasil meraih puncak yang berselimut es tersebut. Ini merupakan pendakian pertama ke salah satu dari sepuluh puncak tertinggi dunia yang dilakukan oleh warga Amerika dan oleh wanita.

Saat saya baca paragraf pertama prakata edisi Ulang Tahun kedua puluh ini (bayangkan sob, dua puluh tahun selalu mencetak ulang, tak terbayangkan banyaknya eksemplar yang terjual), semangat saya langsung menggelora. Sudah terbayangkan perjalanan kami – para wanita tangguh – akan terhalang ‘badai’ dan ‘longsoran es’. Tim Annapurna berhasil, tentu kami pun akan berhasil! Itulah pegangan saya.
Juga diceritakan bagaimana pandangan masyarakat di Amerika sana. Menurut mereka, wanita sangat dipengaruhi oleh hati. Mood wanita adalah yang paling mudah berubah-ubah. Diprediksi bahwa tim ekspedisi yang semua anggotanya wanita akan banyak mengalami perdebatan, perseteruan antar tim dan lain-lain. Apalagi yang ditaklukkan adalah puncak gunung yang kadar oksigennya jauh lebih rendah sehingga sangat berpotensial membuat hati lebih mudah emosi, dan berfikiran pendek. Sangat banyak pendapat mereka yang tidak ingin saya tulis.
Sempat terfikir, benar juga!
Saya selalu berdo’a dalam hati, semoga dengan kekompakan dan persaudaraan yang kami jalin selama masa latihan fisik dan try out dapat membuat kami berlapang hati dalam menghadapi setiap masalah nantinya.
Do’a yang selalu saya panjatkan selama kami dalam perjalanan.
Hingga sekarang buku Annapurna adalah buku yang paling menginspirasi saya, bahkan nama ‘Annapurna’ saya ambil untuk usaha yang saya jalankan sekarang J
Sekian banyak nasihat, petuah, komentar dan perlakuan dari warga KOMMA, sahabat dan orang-orang terdekat kami semuanya menambah khazanah nusantara perbekalan kami untuk tetap melanjutkan ekspedisi ini. Dan semoga dukungan dan doa dari semuanya membuat kami menjadi orang yang lebih berguna sekembalinya dari ekspedisi.


Next. Seruni XPDC Ep.5

No comments:

Post a Comment

 
Blogger Templates