“..karena
mendung itu berarti bahwa musim semi akan tiba”
Kalimat yang tertulis di
laporan perjalanan Seruni halaman 10 ini seperti menceritakan secara singkat
perjalanan kami. Begitu banyak pengorbanan, hambatan, dan ujian yang harus kami
lalui, akhirnya kami dapat menikmati indahnya kebersamaan, pengalaman dan
persaudaraan.
Rentang waktu sekian lama,
banyak hal bisa terjadi. Persoalan anggota tim, pencarian dana, kesibukan
masing-masing anggota dan lainnya. Tetapi semua itu cukup mendewasakan tim ini,
karena kami percaya bahwa mendung itu tak selamanya dan lebatnya hujan yang
dibawanya akan menerbarkan bunga-bunga seruni.. J
( kalimat ini disusun oleh Jeng
No di laporan Seruni, kayaknya lagi berbunga-bunga yaaa... hahaha asseehhh)
Anggota tim yang terdiri dari 4
orang Anggota Biasa KOMMA dan 2 orang simpatisan (paling simpati - ehem)
menjadi tanda tanya oleh warga organisasi. Selama ini, setiap kegiatan
ekspedisi dengan skala yang sama hanya dilakukan murni oleh Anggota KOMMA.
Saat topik ini menjadi
perdebatan, saya sempat sedih berhubung saya hanya seorang simpatisan
organisasi dan saya sudah terlalu semangat untuk ikut ekspedisi. Tetapi saya
tidak akan menyerah. Saya tetap berharap bahwa warga akan menyetujui
keikutsertaan kami, saya dan Andin. Pembahasan panjang pun dilakukan, dengan
berbagai ketentuan dan kesepakatan, hal ini tidak lagi jadi masalah. Lega
sekali saya rasanya. Terimakasih saudaraku di organisasi.... J
Cewek
semua...?
Pertanyaan ini selalu keluar
selama perjalanan dimanapun kami berada, ya Sekretariat Mapala disana, ya
dikereta api atau dirumah keluarga yang kami kunjungi..
Pada tanggal 23 Februari 2009,
ketika kami mengetahui bahwa seluruh anggota tim adalah cewek, memang agak
ganjal, tetapi justru hal ini menambah semangat dan pastinya sudah terbayangkan
hal-hal seru yang nanti akan kami lakukan. Disamping beberapa hal yang harus
kami persiapkan lebih ekstra, kesiapan fisik dan mental setiap anggota tim.
Gender problem di bumi
Indonesia ini memang sudah biasa karena memang masih banyak yang mempertanyakan
emansipasi wanita. Pemimpin wanita, petinju wanita, sampai tim ekspedisi wanita
yang menyeberang dari Sumatera ke Nusa Tenggara tanpa se pria pun.
Suatu hari, saya berjalan-jalan
ke Gramedia, sepertinya langkah saya memang sudah diarahkan olehNYA untuk menemukan
sebuah buku ekspedisi, yang semua anggotanya wanita. ‘ANNAPURNA’ – judul buku itu yang ditulis oleh Arlene Blum. Kisah
dramatis ekspedisi wanita pertama ke Himalaya.
Prakata Untuk Edisi Ulang Tahun ke
Dua Puluh
Pada 1978, tim kami yang terdiri dari
13 wanita berangkat ke Nepal untuk mendaki Annapurna I, salah satu puncak
raksasa yang sulit dan berbahaya di Pegunungan Himalaya. Ketika gagasan untuk
mendaki muncul, semua puncak dengan ketinggian 8.000 meter sudah ditaklukkan
oleh pria, tetapi belum satupun yang ditaklukkan oleh wanita. Banyak orang –
pria maupun wanita-percaya bahwa tim pendaki wanita kurang memiliki
ketangguhan, keterampilan, dan keberanian yang dibutuhkan untuk melakukan
pendakian seperti itu. Meskipun dihadang badai, longsoran es, dan pemboikotan para Sherpa, kami
berhasil meraih puncak yang berselimut es tersebut. Ini merupakan pendakian pertama
ke salah satu dari sepuluh puncak tertinggi dunia yang dilakukan oleh warga
Amerika dan oleh wanita.
Saat saya baca paragraf pertama
prakata edisi Ulang Tahun kedua puluh ini (bayangkan sob, dua puluh tahun selalu mencetak ulang, tak terbayangkan banyaknya eksemplar yang terjual), semangat saya langsung menggelora. Sudah terbayangkan perjalanan kami –
para wanita tangguh – akan terhalang ‘badai’ dan ‘longsoran es’. Tim Annapurna
berhasil, tentu kami pun akan berhasil! Itulah pegangan saya.
Juga diceritakan bagaimana pandangan masyarakat di Amerika sana. Menurut mereka, wanita
sangat dipengaruhi oleh hati. Mood wanita adalah yang paling mudah
berubah-ubah. Diprediksi bahwa tim ekspedisi yang semua anggotanya wanita akan
banyak mengalami perdebatan, perseteruan antar tim dan lain-lain. Apalagi yang
ditaklukkan adalah puncak gunung yang kadar oksigennya jauh lebih rendah
sehingga sangat berpotensial membuat hati lebih mudah emosi, dan berfikiran
pendek. Sangat banyak pendapat mereka yang tidak ingin saya tulis.
Sempat terfikir, benar juga!
Saya selalu berdo’a dalam hati,
semoga dengan kekompakan dan persaudaraan yang kami jalin selama masa latihan
fisik dan try out dapat membuat kami berlapang hati dalam menghadapi setiap
masalah nantinya.
Do’a yang selalu saya panjatkan
selama kami dalam perjalanan.
Hingga
sekarang buku Annapurna adalah buku yang paling menginspirasi saya, bahkan nama
‘Annapurna’ saya ambil untuk usaha yang saya jalankan sekarang J
Sekian
banyak nasihat, petuah, komentar dan perlakuan dari warga KOMMA, sahabat dan
orang-orang terdekat kami semuanya menambah khazanah nusantara perbekalan kami
untuk tetap melanjutkan ekspedisi ini. Dan semoga dukungan dan doa dari
semuanya membuat kami menjadi orang yang lebih berguna sekembalinya dari
ekspedisi.
Next. Seruni XPDC Ep.5
No comments:
Post a Comment