Social Icons

Pages

Saturday, February 6, 2016

Seruni XPDC Eps. 11





20 Juli 2009
Tepat pukul 6.20 WITA, perlahan kapal pun mencapai Pelabuhan Lembar.
Suasana masih sepi dan dingin.
Jemputan kami belum datang sehingga kami menunggu di Pos yang ada di pelabuhan.
Untuk mengusir kebosanan, kami bercengkrama dengan petugas yang standby di Pos pagi itu.

Untuk meminimalisir biaya tentu saja kami menghubungi sanak family yang ada di Pulau Lombok, dan sama seperti sebelumnya, keluarga Burin lah yang ada di Lombok.
Kami dijemput oleh Uda (kakak laki-laki) Burin, sekaligus bersilaturrahmi dengan keluarga beliau.

Pukul 10.10 WITA kami diantar oleh Uda Burin ke UnRam, Universitas Mataram, tempat persinggahan kami selanjutnya.

Sebelumnya, kami sudah saling berhubungan di telepon dengan salah satu anggota Maternapala (Mahasiswa Peternakan Pencinta Alam), Bang Opik. Tetapi tentu saja kami belum pernah bertemu.
Uda Burin tentu saja sedikit khawatir melepas para gadis-gadis ini tinggal di kampus dengan orang-orang yang belum pernah bertemu dan baru berkenalan. Akhirnya kami mengaku saja kalau kami sudah kenal sebelumnya. Niatnya hanya agar beliau tak terlalu khawatir. Tak ada maksud lain.
( maafkan kami yang sudah berbohong uda, Alhamdulillah kami bisa menjaga diri )

Bertemu dengan Bang Opik di dekat Fakultas Peternakan kami bersikap seperti sudah kenal sebelumnya.
Setelah itu kami dibawa ke sekretariat Maternapala.
Seru sekali bertemu dengan saudara-saudara disini, mereka ramah-ramah dan serasa sudah lama kenal.

di Sekretariat Maternapala lagi beres-beres perlengkapan pendakian
*harap jangan hanya fokus ke sosisnya*


Bercengkrama sebentar, kami akhirnya pergi membeli perlengkapan untuk pendakian Gunung Rinjani. Karena jadwal kami hari ini langsung memulai pendakian.
Selesai belanja keperluan pendakian, kami makan siang dan bersiap – siap.

Rute semula yang akan kami tempuh adalah jalur Sembalun. Namun sayang, Gunung Baru Jari sedang aktif mengeluarkan laharnya sehingga pendakian menuju puncak dan Danau Segara Anak ditutup. Pendakian hanya diizinkan sampai Pelawangan Sembalun dan Pelawangan Senaru.
Ternyata kami belum beruntung...

Dari masukan teman-teman Maternapala, kami pun memutuskan untuk memakai jalur Senaru. Karena menurut mereka, jika tidak muncak, view Pelawangan Senaru akan jauh lebih indah. Kata teman-teman, Pelawangan Senaru lah yang sering muncul di kalender-kalender. Akhirnya kami pun ikut.

Pukul 15.20 WITA, kami berangkat menuju Desa Senaru.
Rekan pendakian kami di Rinjani adalah Bang Opik dan Juju dari Maternapala Unram.
Untuk mencapai Desa Senaru, dari Kota Mataram bisa menggunakan bemo atau kita di Padang biasa menyebutnya angkot tetapi harus 2 kali naik bemo karena tak ada jurusan langsung Senaru. Dari terminal Mandalike Mataram ke Aikmel, setelah itu dilanjutkan naik bemo jurusan Senaru. Setelah dipertimbangkan, akhirnya kami memutuskan menyewa bemo untuk mengantar langsung ke Senaru berhubung kami rame dan dengan beban yang banyak dan berat.

Perjalanan Mataram – Senaru ditempuh dengan waktu 4 jam perjalanan dengan bemo.

Akhirnya kami sampai di Pos RTC (Rinjani Tracking Center) Senaru pada pukul 20.05 WITA. Karena sudah gelap, akhirnya kami menginap di Barugak nya pak Sukrati di pemukiman suku Sasak Senaru.
Suku Sasak adalah suku asli Lombok dan Barugak adalah sebutan untuk rumah tradisional mereka yang berupa rumah panggung tanpa dinding yang biasa dipakai untuk bermusyawarah atau bercakap-cakap diluar rumah. Sedangkan para penduduk tinggal didalam rumah yang beralaskan tanah liat.
Karena barugak ini tanpa dinding, jadilah kami tidur dengan sleeping bag masing-masing karena suhu dimalam hari dinggiiiin.......

Barugak yang ukurannya tidak terlalu besar ini harus cukup untuk kami tidur 8 orang plus barang bawaan yang banyak. Tetapi saya merasa tidak nyaman meletakkan Tepa (sandal) saya di bawah panggung karena di pemukiman ini anjing peliharaan penduduk berkeliaran dengan bebasnya. Saya tak mau ambil resiko kalau tepa saya dijilat atau digigit oleh anjing (mau cari kemana tanah merah untuk mensucikannya lagi?) akhirnya tepa saya selipkan diantara kayu di loteng barugak.

Beberapa waktu kemudian, Bg Opik melihat tepa saya nyelip di loteng, beliau langsung menurunkannya. Ternyata, kata Bg opik, bagi Suku Sasak Barugak ini suci dan tidak boleh sembarangan. Di bagian atas ada terpasang kepala hewan (saya lupa hewan apa) dan sendal yang notabene dipakai dikaki dan kotor tidak boleh disejajarkan dengan kepala hewan tersebut. Kata Bg Opik, kepala hewan itu adalah lambang kesejahteraan masyarakat disana.

Maaf Bg Opik, Maaf Pak Sukrati. Maaf atas kelancangan saya.
Akhirnya tepa saya letakkan di kepala saya, lumayan dijadikan bantal.

dan kami pun beristirahat ditemani dengan suara lolongan anjing yang bersahut-sahutan....


next. SERUNI XPDC EPS.12
Hari Pertama Pendakian Rinjani

No comments:

Post a Comment

 
Blogger Templates