20
Juli 2009
Tepat pukul 6.20 WITA,
perlahan kapal pun mencapai Pelabuhan Lembar.
Suasana masih sepi dan
dingin.
Jemputan kami belum
datang sehingga kami menunggu di Pos yang ada di pelabuhan.
Untuk mengusir
kebosanan, kami bercengkrama dengan petugas yang standby di Pos pagi itu.
Untuk meminimalisir
biaya tentu saja kami menghubungi sanak family yang ada di Pulau Lombok, dan
sama seperti sebelumnya, keluarga Burin lah yang ada di Lombok.
Kami dijemput oleh Uda
(kakak laki-laki) Burin, sekaligus bersilaturrahmi dengan keluarga beliau.
Pukul 10.10 WITA kami
diantar oleh Uda Burin ke UnRam, Universitas Mataram, tempat persinggahan kami
selanjutnya.
Sebelumnya, kami sudah
saling berhubungan di telepon dengan salah satu anggota Maternapala (Mahasiswa
Peternakan Pencinta Alam), Bang Opik. Tetapi tentu saja kami belum pernah
bertemu.
Uda Burin tentu saja
sedikit khawatir melepas para gadis-gadis ini tinggal di kampus dengan
orang-orang yang belum pernah bertemu dan baru berkenalan. Akhirnya kami
mengaku saja kalau kami sudah kenal sebelumnya. Niatnya hanya agar beliau tak
terlalu khawatir. Tak ada maksud lain.
( maafkan kami yang
sudah berbohong uda, Alhamdulillah kami bisa menjaga diri )
Bertemu dengan Bang Opik
di dekat Fakultas Peternakan kami bersikap seperti sudah kenal sebelumnya.
Setelah itu kami dibawa
ke sekretariat Maternapala.
Seru sekali bertemu
dengan saudara-saudara disini, mereka ramah-ramah dan serasa sudah lama kenal.
di Sekretariat Maternapala lagi beres-beres perlengkapan pendakian
*harap jangan hanya fokus ke sosisnya*
Bercengkrama sebentar, kami akhirnya pergi membeli perlengkapan untuk pendakian Gunung Rinjani. Karena jadwal kami hari ini langsung memulai pendakian.
Selesai belanja
keperluan pendakian, kami makan siang dan bersiap – siap.
Rute semula yang akan
kami tempuh adalah jalur Sembalun. Namun sayang, Gunung Baru Jari sedang aktif
mengeluarkan laharnya sehingga pendakian menuju puncak dan Danau Segara Anak
ditutup. Pendakian hanya diizinkan sampai Pelawangan Sembalun dan Pelawangan
Senaru.
Ternyata kami belum
beruntung...
Dari masukan
teman-teman Maternapala, kami pun memutuskan untuk memakai jalur Senaru. Karena
menurut mereka, jika tidak muncak,
view Pelawangan Senaru akan jauh lebih indah. Kata teman-teman, Pelawangan
Senaru lah yang sering muncul di kalender-kalender. Akhirnya kami pun ikut.
Pukul 15.20 WITA, kami
berangkat menuju Desa Senaru.
Rekan pendakian kami di
Rinjani adalah Bang Opik dan Juju dari Maternapala Unram.
Untuk mencapai Desa
Senaru, dari Kota Mataram bisa menggunakan bemo atau kita di Padang biasa
menyebutnya angkot tetapi harus 2 kali naik bemo karena tak ada jurusan
langsung Senaru. Dari terminal Mandalike Mataram ke Aikmel, setelah itu
dilanjutkan naik bemo jurusan Senaru. Setelah dipertimbangkan, akhirnya kami
memutuskan menyewa bemo untuk mengantar langsung ke Senaru berhubung kami rame
dan dengan beban yang banyak dan berat.
Perjalanan Mataram –
Senaru ditempuh dengan waktu 4 jam perjalanan dengan bemo.
Akhirnya kami sampai di
Pos RTC (Rinjani Tracking Center) Senaru pada pukul 20.05 WITA. Karena sudah
gelap, akhirnya kami menginap di Barugak nya pak Sukrati di pemukiman suku
Sasak Senaru.
Suku Sasak adalah suku
asli Lombok dan Barugak adalah sebutan untuk rumah tradisional mereka yang
berupa rumah panggung tanpa dinding yang biasa dipakai untuk bermusyawarah atau
bercakap-cakap diluar rumah. Sedangkan para penduduk tinggal didalam rumah yang
beralaskan tanah liat.
Karena barugak ini
tanpa dinding, jadilah kami tidur dengan sleeping bag masing-masing karena suhu
dimalam hari dinggiiiin.......
Barugak yang ukurannya
tidak terlalu besar ini harus cukup untuk kami tidur 8 orang plus barang bawaan
yang banyak. Tetapi
saya merasa tidak nyaman meletakkan Tepa (sandal) saya di bawah panggung karena
di pemukiman ini anjing peliharaan penduduk berkeliaran dengan bebasnya. Saya
tak mau ambil resiko kalau tepa saya dijilat atau digigit oleh anjing (mau cari
kemana tanah merah untuk mensucikannya lagi?) akhirnya tepa saya selipkan
diantara kayu di loteng barugak.
Beberapa waktu
kemudian, Bg Opik melihat tepa saya nyelip di loteng, beliau langsung
menurunkannya. Ternyata, kata Bg opik, bagi Suku Sasak Barugak ini suci dan
tidak boleh sembarangan. Di bagian atas ada terpasang kepala hewan (saya lupa
hewan apa) dan sendal yang notabene dipakai dikaki dan kotor tidak boleh
disejajarkan dengan kepala hewan tersebut. Kata Bg Opik, kepala hewan itu adalah lambang kesejahteraan masyarakat disana.
Maaf Bg Opik, Maaf Pak
Sukrati. Maaf atas kelancangan saya.
Akhirnya tepa saya
letakkan di kepala saya, lumayan dijadikan bantal.
dan kami pun beristirahat ditemani dengan suara lolongan anjing yang bersahut-sahutan....
next. SERUNI XPDC EPS.12
Hari Pertama Pendakian Rinjani

No comments:
Post a Comment