SERUNI XPDC 2009. Begitulah ekspedisi
ini dinamakan.
Resminya, Seruni adalah
kependekan dari SEmeRu –AgUng – RinjaNI, nama
Gunung yang akan kami daki, namun pada saat keberangkatan ternyata peserta
ekspedisi yang berangkat pun mencerminkan nama SERUNI tersebut.
Nama Seruni adalah nama bunga,
bunga identik dengan wanita, dan voila.. semua tim Seruni yang jadi berangkat adalah
wanita (setelah membuka pendaftaran peserta beberapa lama). Selain itu, setiap
huruf kata SERUNI juga bisa menjadi perwakilan masing-masing peserta karena
lagi-lagi ( seperti sudah ditakdirkan ) jumlah Tim Seruni adalah 6 orang.
Jadi tidak resminya, Seruni
adalah 6 gadis berani yang melakukan ekspedisi 24 hari dengan carier gede dipunggung
dan seragam merah yang kalo dari jauh dikira pramugari Air Asia.
Tolong jangan dibantah! Biarkan kami
merasa seperti itu!
Mari kita berkenalan dengan
masing-masing Tim Seruni :
1.
Suria
Tresna
Seorang
Mahasiswi jurusan Teknologi Hasil Pertanian angkatan 2004
Dipilih sebagai
Koordinator Seruni
2.
YElly
Monika R
Ini saya.
Juga seorang
Mahasiswi jurusan Teknologi Hasil Pertanian angkatan 2004
Jadi Tim
Perlengkapan
3.
Rini
Nofrida
Adik Angkatan
kami
Mahasiswi
jurusan Teknologi Hasil Pertanian angkatan 2005
Menjadi Tim
Konsumsi
4.
HUltayuni
Delseana
Mahasiswi
jurusan Ilmu Tanah angkatan 2007
Sebagai Bendahara
5.
Novi
Rayanti
Mahasiswi
jurusan Teknologi Hasil Pertanian angkatan 2004
Tim Publikasi
& Dokumentasi
6.
AndIna
Gita
Mahasiswi
jurusan Akuntansi angkatan 2005
Tim P3K
( Anda sudah menemukan kata SERUNI dari nama-nama kami?
Berarti Anda adalah orang yang teliti! )
Kami ber-6 berasal dari Universitas Andalas Padang.
Seperti bisa dilihat dari data
diatas, kami bertiga, saya, Novi dan Suria adalah teman seangkatan. Novi dan
Tuya’ – biasa Suria dipanggil, pada awalnya yang merencanakan ekspedisi ini.
Mereka berdua adalah anggota KOMMA (Kelompok Mahasiswa Mencintai Alam) Fakultas Pertanian
Unand dan mereka ingin mengibarkan kembali bendera KOMMA di puncak-puncak
tertinggi Indonesia.
Saya, yang sempat mendaftar jadi anggota KOMMA namun batal
melanjutkan karena alasan pribadi, sangat antusias mendengar ide cemerlang ini
disamping saya juga butuh waktu menyusun kembali semangat saya yang tercerai
berai dalam menyelesaikan skripsi. Keinginan yang sedikit emosional memang,
namun kesadaran dan tanggung jawab untuk mencintai dan menjaga lingkunganlah
yang harus didahulukan. Bukan lagi saatnya penaklukan puncak tertinggi yang
menjadi tujuan utama. Sehingga niat pun kembali diluruskan.
Kami sangat antusias dalam
mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan untuk ekspedisi ini. Yang paling
saya ingat, kami bertiga duduk di kafe fakultas, ditemani teh es yang harganya
bersahabat dengan kantong mahasiswa, kadang-kadang kalau sedang ada uang, makan
siang juga (eh ini saya, novi dan tuya’ sih biasa makan dikafe).
Kami sengaja
cari PW alias Posisi Wueenak dan meja agak besar karena akan sangat banyak
kertas-kertas yang bertebaran. Orang-orang yang melihat sekilas mungkin mengira
kami sedang sibuk menyusun bahan skripsi, tapi maaf teman kalian salah sangka,
peta bukanlah bahan untuk skripsi kami yang jurusan Teknologi Hasil Pertanian
ini!
Novi yang bertugas menyusun itinerary ekspedisi dan dari
novi jugalah saya pertama kali belajar menyusun itinerary yang baik (Thanks ya
jeng *sambil ngusap mata bukan karena terharu tetapi karena belekan*). Dengan
laptop, peta, tabel itinerary, dan beberapa kertas buram kami bertiga mulai
bekerja. Perlu teman ketahui, planning ini dimulai sejak November 2008. Novi
dan Isur yang melihat ada tiket pesawat promo Padang-Jakarta PP hanya Rp. 150.000,-
langsung membeli dan berfikir sayang juga kalau sudah ke Jawa hanya di Jakarta
aja.
Sedangkan saya, yang saat itu tidak punya uang, belum beli
tiket seperti mereka, hanya bermodalkan semangat! Karena dengan ide ekspedisi ini, saya jadi lebih semangat
bangun pagi, lebih semangat pergi ke kampus, dan yang terpenting lebih semangat
browsing internet karena sebelumnya saya ke warnet hanya rajin buka Facebook,
Twitter dan Youtube.
UANG! Adalah hal yang paling krusial di ekspedisi ini. Kami
yang hanya mahasiswa, apalagi mahasiswa tingkat akhir yang butuh dana banyak
untuk penelitian, tentu tidak punya banyak dana untuk ekspedisi. Minta orang
tua sangatlah tidak mungkin. Orang tua mana yang mengijinkan anaknya
meninggalkan skripsi hanya untuk melakukan ekspedisi naik gunung!
Akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk membuat proposal
dan mengajukan proposal pada instansi terkait.
Menyusun proposal tidaklah mudah. Banyak hal yang harus
dipertimbangkan. Tema, tujuan, dan bagian-bagian proposal lainnya.
Dan, mulailah kami berembuk...
next.
SERUNI XPDC Eps.2
next.
SERUNI XPDC Eps.2


No comments:
Post a Comment