DIALAH ‘D’
‘Entah apa yang ada di dalam fikirannya!’
Selalu itu yang menggema dalam fikiranku
setiap kali ku baca tulisannya. Seperti setiap atom dalam tubuhnya berisi
jutaan ilmu pengetahuan dengan beragam kata-kata tak lazim.
Berat, hi-class, dan membingungkan adalah
defenisi tentang tulisan-tulisannya, itu pendapat sebagian orang yang sudah
terbiasa dengan bacaan yang semua lapisan bisa memahami ataupun orang-orang
yang biasa mengkonsumsi bacaan yang membuatnya bisa mojok disudut ruangan
kuliah sambil tertawa-tawa sendiri. Tapi bagiku, tulisannya seperti membuka wajah dunia
yang selama ini tersimpan dan tak tahan untuk diobrak-abrik manusia
berintelegensia tinggi. Ternyata dunia menyimpan begitu banyak rahasia, Sob!
Aku, seperti yang sering kukatakan pada
orang-orang di sekitarku adalah seorang yang mempunyai ‘khayalan’ tingkat
tinggi. Bukan berarti aku hanyalah seorang penghayal, bukan juga berarti aku
seorang yang tidak suka dengan dunia ‘apa adanya’, tetapi ada masanya aku akan
terdiam ditengah keramaian dan membayangkan hal-hal yang terkadang tak pernah
terbayangkan orang lain. Begitu sulit aku mendeskripsikannya.
Andai atom-atom tubuhnya bisa
ditransplantasikan ke dalam tubuhku, tentu akan ku serap semua isinya dan
kusebarkan keseluruh inci bagian tubuhku yang lain.
Tapi, aku berfikir lagi, apa mampu otakku
menahan semua ledakan ilmu pengetahuannya yang kurasa begitu jauh dari apa yang
ku punya saat ini?
Tunggu!! Jangan semua ilmumu ditransfer,
karena aku belum siap! Aku sepertinya hanya mampu menampung secuil dari semua.
Ah, begitu amatirnya aku sehingga untuk
menuliskan perasaanku pun tak begitu bagus. Tapi aku tak khawatir, karena ini
cukup bagiku.
Setiap membaca tulisannya, entah kenapa aku
selalu mengaitkan si pelaku cerita dengan dia. Seperti ‘Zarah’ yang memiliki
intelegensia lebih tinggi dari anak-anak seusianya dengan mengungkapkan hal-hal
unik yang bahkan guru-guru pun belum tentu tahu. Dia tentu lebih cerdas
daripada ‘Zarah’, tokoh ciptaannya, yang menurutku tentu ia akan seperti zarah
jika berada di kerumunan orang-orang. Apakah ia memang berfikiran bahwa fungi
memegang peranan penting dalam kehidupan diatas dunia ini? Entah. Atau ia akan
seperti ‘___’* yang begitu mencintai kopi hingga mampu mendeskripsikan kopi
secara mendalam yang bagi sebagian orang – termasuk aku – hanya cukup menjadi
penikmat kopi. Bahkan aku yang pencinta cappucino selalu terfikirkan makna yang
ia sebutkan bahwa penikmat cappucino adalah ___________________________
(*Bahkan untuk mengingat namanya saja aku
harus membuka kembali buku ‘Filosofi Kopi’
Aku begitu tercengang pada kata-katanya yang
seperti tiada batas. No limit
intelegensia! Itu istilahku untuknya. Dia bisa punya cerita, dia juga bisa
punya puisi. Tak jarang aku merasa merinding saat membaca kalimat-kalimatnya
yang bagi orang lain, biasa saja. Aku seperti merasakan ada soul pada setiap
puisi-puisinya, makna yang begitu dalam dengan kata-kata umum. Bagaimana bisa? Bagaimana
bisa sebuah puisinya tentang kesunyian ‘hanyalah’ sebuah catatan kecil?
Aku bukan men-dewa-kannya, bukan juga
menjadikannya Tuhan, aku hanya mengagumi apa yang patut dikagumi. Karunia Tuhan
yang entah kenapa harus diturunkan padanya.
Aku, memang tak cerdas, bahkan –kuakui- daya
ingatku pun terkadang berjalan tak sesuai porsi sehingga saat kalimat-kalimat
ajaib melintas difikiranku, dia akan melintas begitu saja jika tak langsung
kutuliskan. Sering terangkaikan kata-kata yang jika kutulis tentunya akan menjadi
puisi yang begitu indah namun, karena aku sedang tak punya kertas, ia akan
lewat begitu saja. Tak jarang pula cerita-cerita pendek yang jika kurangkaikan
kata-katanya tentu akan menjadi cerita motivasi yang luar biasa tapi nasibnya
hanya sampai di fikiranku saja tanpa bisa sampai pada orang-orang yang inginku
motivasi.
Tapi tentu saja aku tak sehebat dia dalam
merangkai kata-kata!
Aku bukan pshyco, bukan juga freak! Aku hanya
seniman yang mempunyai keterbatasan kemampuan. Bahkan terdengar lucu saat aku
mengakui aku ini seniman! Tepatnya seniman tanpa karya.
Bangga bahwa negara tercinta ini mempunyai
seorang seperti dia yang selalu melihat sesuatu dari berbagai sisi.
Walaupun tiada orang yang akan setuju dengan
pernyataanku ini, aku mengklaime bahwa ada secuil dirinya dalam diriku! Dia yang
bisa menuliskan beberapa bait tulisan, yang dibilang puisi bukan, dibilang
cerita juga bukan tapi begitu mendalam, aku juga punya tulisan itu.
Dia yang bisa merangkai kata-kata menjadi
bait-bait puisi yang mungkin hanya dia yang tahu artinya, aku juga punya
rangkaian kata – aku malu mengakuinya sebagai puisi – yang memang cuma aku yang
tahu makna mendalam yang terkandung pada kata-kata itu.
Aku hanya bahagia bahwa ada dia yang
menjadikan dunia menulis menjadi lebih luas dan tak harus seperti yang orang
inginkan!
Padang, 11 mei
2012
12.00 WIB
awesome!
ReplyDeletesetuju banget sama tuisan di atas, cool! ^_^