‘Mak Ida is in the House, yow!’
Siapa pun Anda dan dimanapun Anda berada, patutlah Anda mengenal sosok yang satu ini.
Nama lengkap : Zuraida
Riwayat hidup dimulai dari pernah 13x melahirkan dengan 1x anak kembar. Jadi total anak yang pernah dilahirkan adalah 14 orang. Tetapi sayang, 2 anak beliau meninggal di usia yang masih sangat muda yamg diikuti dengan kematian 2 anak kembar beliau. Jadilah 10 anak yang masih hidup.
Mempunyai 1 orang suami dan mempunyai sangat banyak sekali sanak saudara alias KB = Keluarga Besar.
Dizaman dulunya, ‘Ida’ –sapaan akrabnya- adalah seorang gadis yang manis dan lincah. Suka bergaul dengan siapa saja dan ramah pada semua orang. Masa remaja beliau dihabiskan di ‘Pakan Akaik’, ibukota dari desa ‘Koto Baru’, Kec.Baso, Kab. Agam, Sumbar. Ida remaja yang manis ini menjadi idaman pemuda-pemuda desa hingga akhirnya Ida memutuskan memilih satu orang pemuda untuk menjadi tambatan hatinya. #ehem. Mulai dari jalan berdua hingga nonton berdua pun dilakoni oleh Ida muda. Mereka juga saling berbalas surat.
Suatu hari, Bapak Ida, seorang Ustadz terkemuka dikampungnya, menemukan surat cinta Ida dan marah besar. Akhirnya beliau memutuskan untuk menikahkan Ida dengan lelaki pilihannya disaat usia Ida yang masih sangat remaja. Tapi apa hendak dikata, Ida tak kuasa menolak perjodohan itu. Ida merasa seperti Siti Nurbaya tapi ia tak ada kekuatan untuk menolak keinginan bapaknya yang saat itu menjadi teladan dikampungnya. Dan datanglah hari yang telah ditentukan untuk pernikahan Ida dan Arjunalis ini.
*****
Rumah tangga berjalan baik walaupun diselingi dengan bumbu-bumbu rumah tangga. Sehabis menikah Ida tinggal di Bogor. Jauh dari orang tua dan keluarga. Sampai akhirnya ia memiliki 2 orang anak. Setelah itu, Ida dan keluarga kembali pindah ke kampong halaman karena seperti perekonomian di Bogor tidak cukup baik untuk mereka.
Di kampong halamannya, Ida melahirkan anak hingga anak ke-6. Anak-anaknya yang telah besar, ia biarkan mencari nafkah sendiri-sendiri, hingga ada yang merantau ke Bengkulu dan Bali ikut dengan saudara yang telah dulu ada disana. Dan tentu saja ada yang tetap tinggal dikampung untuk merawat kakek dan Nenek yang sudah tua.
Selanjutnya Ida, suami dan beberapa anak merantau lagi ke Lampung. Ida mengontrak rumah di dekat pasar dan berjualan buah-buahan. Selain itu, tentu saja Ida juga melahirkan anak-anaknya.
(Disitulah gw hadir dikehidupan mak Ida!)
Tetapi, berita duka datang dari kampong yang mengharuskan Ida merelakan bisnis buahnya yang sedang berkembang baik. Berita duka itu adalah Ibunya meninggal karena kepala Ibunya, yang memang sudah tua, ter’antuk’ sangat kerasnya di pintu menuju lantai 2 rumah hingga beliau jatuh dari tangga.
Innalillahiwainnalillahiraji’un
(Istirahat lah dengan tenang nenekku tercinta..! #hikshiks)
Karena tak ada lagi yang akan mengurus Bapaknya, akhirnya ida memutuskan untuk pindah kembali ke kampong halaman. Saat itu tahun 1990 dan saat itulah untuk pertama kalinya gw, yang masih berumur 4 tahun, memulai petualangan. Kami sekeluarga beserta barang-barang - tak lupa tipi hitam putih 14’ – menempuh perjalanan dengan bus dalam waktu yang tidak secepat sekarang.
Pada usia 4 tahun itulah, aku baru menginjakkan kaki di kampong halamanku, dengan suasana dan iklim yang berbeda. Lampung yang panas, karena kami tinggal didekat pantai, dengan kampungku yang dingin karena diatas bukit. Walaupun aku tak pernah melihat wajah nenekku yang kata anak-anak disitu, nenek orang yang baik, sering memberi es gratis pada anak-anak yang tak punya uang walaupun menjual es adalah sumber penghasilannya.
‘Mak Ida memulai usaha dengan membuka warung kopi di pasar depan rumah kami. Dan Bapaknya tetap dengan usaha berjualan perlengkapan kecil-kecilan, seperti paku, palu, alat pancing dll dirumah.
Di rumah papan tingkat 2 itulah, Ida, suami, Bapaknya, dan 6 orang anaknya tinggal.
*****
Saat tak ada lagi penghasilan yang bisa diperoleh dari usaha bapaknya, Ida mengambil alih kedai bapaknya dengan berjualan barang ‘pecah belah’. Mulai dari panci, kuali, dll hingga gelas dan piring hias. Dikedai ini, Ida juga menyediakan layanan bungkus kado. Saat itu memang sedang zamannya hadiah pernikahan dengan kado berisi peralatan rumah tangga. Anak-anaknya dibagi tugas, ada yang membantu di kedai kopi, ada yang di toko pecah belah.
Tak disangka tak diduga, disuatu Hari Minggu, saat Ida sedang sibuk melayani pembeli dikedai kopinya, datang seorang pria ke kedai pecah belahnya, yang saat itu dijaga oleh anaknya ke-9, Yelly. Pria itu bertanya tentang Ida dan keluarganya. Si anak dengan polosnya bercerita. Lalu berlari ke kedai kopi untuk memanggil Ibunya.
Saat ida menemui pria yang mencarinya itu, ia kaget bukan kepalang. Si anak heran.
Ida sepertinya tak mengharapkan kedatangan pria misterius ini, sambil meminta agar pria itu pergi dan tak usah kembali lagi. Si anak tambah heran dan penasaran.
Malamnya, saat semua sedang beristirahat, si yelly ini menghampiri Ibunya berharap dapat penjelasan dari Ibunya. Akhirnya Ida menjelaskan bahwa pria itu adalah mantan pacarnya yang ia tinggalkan saat ia akan menikah dengan suaminya yang sekarang.
Si anak kaget! Sambil berkata dalam hati ‘gantengnya.. andai aku anaknya, tentulah aku sangat cantik!’
#ngarepmodeon
Sejak saat itu, pria tersebut tak pernah datang lagi menemui Ida dan Ida menjalani hidupnya dengan damai, ditemani anak-anaknya yang mulai beranjak remaja.
Saat perekonomian keluarga mulai membaik, tepatnya tahun 1996, suami Ida menghadap yang kuasa karena penyakit yang dideritanya, lalu diikuti oleh kematian Bapaknya yang sudah sangat tua pada tahun 2007. Akhirnnya Ida berjuang sendiri untuk menghidupi anak-anaknya.
Ternyata bisnis kedai kopi Ida ini laris manis, itu terbukti bahwa selalu saja dipenuhi oleh langganan setia Ida yang merasa ada yang kurang jika tak minum di kedai kopi Ida sehingga Ida menjadi dikenal oleh banyak orang, bukan hanya oleh warga kampong saja, tetapi juga oleh warga kampong sekitar.
Saat ini kedai kopi Ida diberi nama ‘Dangau Kawa Kak Ida’.
Oleh karena itu, semua orang memanggilnya Kak Ida, mulai dari anak SD, sampai yang tua-tua.
(Kurang ajar tu anak SD, masa emak gw dipanggil Kak Ida? #hajarr )
Saking terkenalnya Kak Ida, banyak kejadian yang dialami oleh anak-anaknya.
Contohnya saja, cerita tentang Yelly, anak ke-9, yang pergi ke pasar Bukittinggi, tepatnya di pasar bawah, untuk belanja kebutuhan di kedai kopi. Setiap ia belanja, selalu ditanya anak siapa, dan setiap dijawab, mereka punya jawaban yang sama; ‘ooww… anak Kak Ida Pakan Akaik’
Hal itu juga terjadi pada Zurmi, anak ke-8, yang juga sering berbelanja.
Karena Ida sudah menjadi langganan tetap mereka sehingga mereka tahu apa-apa saja yang biasa dibelinya.
*****
Ada juga kejadian yang dialami oleh teman-teman anaknya. Sebut saja teman si Yelly, Rika.
Yelly mengenal Rika saat kuliah di universitas negeri terbesar di Sumatera Barat dan Rika belum pernah tahu dimana rumah Yelly. Saat lebaran Idul Fitri tahun 2011 kemaren, Rika berniat untuk mengunjungi Yelly dengan petunjuk yang ia dapatkan dari Yelly, ditambah pasrah jika tak bisa menemukan alamat.
Tapi, tak disangka tak diduga. Saat ia akan naik ojek, dari daerah yang lumayan jauh, ia bilang ke tukang ojek mau kerumah Kak Ida, tukang ojeknya kenal!
Sesampai dirumah, Rika ketawa-ketawa sambil berkata ‘Gaul Kak Ida yow? Terkenal ha….!’
Hahaha….. ;-D
I’m proud to be her daughter!

Nice :)
ReplyDeleteI'm proud to be your friend too *big hugs*
And I miss you Yell....
miss u too sista...
ReplyDelete\(^_^)/