Padang, 9 Okt 2011
23.00 WIB
Gelap
Membawaku ke rumah
Kampong halamanku
Hingga berhenti
Didepan seorang wanita hebat
Wanita yang penuh perjuangan
Dalam hidupnya
Sendiri
Saat air mata jatuh di pipi
Hingga ke dada
Terasa seperti pecahan kaca
Yang menyayat hati
“apa yang telah ku perbuat selama ini ?”
20 jam sehari
Terkadang lebih
Ia berjuang untuk hidupnya
Untuk hidup anak-anaknya
Sedangkan aku apa ?
Ku berhenti sejenak
Air mataku tak terbendung lagi !
Dada ini sesak !
Aku ingin teriak !
Tapi gelap ini mengurungku
Ku pandangi lilin
Karena hanya dia yang menemaniku malam ini
Ku perhatikan ia dengan seksama
Dan tiba-tiba
Kurasakan tangan halus
Membelai kepalaku
Membelai ku dengan hangat
Ku lihat,
Dan ia tersenyum
Dalam hatiku
Ya Allah,
Berilah ia keselamatan disana
Dan keselamatan bagi ku juga
Karena aku akan tetap selalu
Bersamanya
Aku merindukan mu
IBU
Cerita dibalik puisi ini :
Malam itu aku pulang kerumah, dan lampu mati. Jadi rumah gelap, tiada orang. Setelah mengutak-atik HP beberapa menit, lampu hidup, aku pun nonton, setelah itu mati lagi, lilin lagi, hidup lagi.
Tak lama kemudian mati lagi, tapi kali ini beda karena ada yang lain terasa dalam hati ku. Tiba-tiba perasaan ku tak enak.
Aku ingat ibu ku di rumah
Tanpa terasa air mata ku tak terbendung lagi.
Dan mengalirlah kalimat puisi di atas.
Tapi, ada beberapa kata yang harus ku ganti dan sedikit penambahan karena aku takut dengan maknanya…
Kata-katanya adalah :
1. Penambahan kata ‘dalam hati’ pada bait ke-5
Alasannya : karena aku ketakutan dalam gelap membayangkan aku melihat sosok (walaupun itu wajah ibu ku), tapi berarti kan makhluk lain, jadi biarlah dalam hati saja
2. Penggantian kata dari ‘ masih ingin’ menjadi ‘akan tetap selalu’ pada kalimat ‘karena aku akan tetap selalu bersamanya’
Alas an diganti karena jika menggunakan kata ‘masih ingin’ itu mengarah pada kepergian…
Aku tidak mau ada kepergian ! atau belum mau….
Aku percaya pada kekuatan fikiran, jadi hati-hati dengan fikiran Anda !!!
No comments:
Post a Comment