Untukmu, Bangsaku!
Di pagi hari ku menulis tentang Taslim Chaniago yang mundur dari Banggar, malamnya ku menangis melihat berita di TV.
Sore itu, tepatnya pukul 18.30 WIB, Metro TV menayangkan berita tentang tingkah laku para wakil rakyat saat ini yang banyak mengecewakan masyarakat. Antara lain, tentang dana 2M untuk perbaikan toilet di gedung DPR RI, dana 3M untuk pembuatan parkir khusus motor, dan yang paling menghebohkan adalah dana 20M untuk ruang pertemuan Banggar – Badan Anggaran - DPR RI.
Bangku import seharga Rp.10 juta per unit, khusus untuk bangku pimpinan seharga Rp. 12 juta per unit, monitor LCD yang juga import –tentunya- terpasang 3 buah di dinding seharga Rp. 1,2 M per unit, dan perlengkapan lainnya termasuk penerangan yang juga menelan dana tidak sedikit.
Metro TV menyorot tentang banyaknya wakil rakyat yang kurang peduli pada kesejahteraan rakyat yang ia wakili. Hebatnya kata-kata si pembawa berita begitu menghanyutkan perasaanku. Ku terpaku pada kenyataan yang terjadi pada bangsa dan Negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan ini.
Ku menangis karena rindu akan sosok pemimpin yang selalu ada untuk membantu rakyatnya!
Pada saat rakyat sedang berjuang untuk hidup, berjuang untuk tetap tabah ditengah bencana alam yang sedang menimpa, sedangkan wakil yang mereka pilih sibuk untuk bermewah-mewah.
Saat si pembawa berita menceritakan tentang Para Pemimpin yang dahulu pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia, saat itu tumpah ruah tangis itu. Bukan hanya sekedar terisak-isak, tapi tumpah ruah. Tak ada maksud untuk sok nasionalisme, atau sok peduli dengan bangsa. Tapi, SAYA MEMANG PEDULI.
Mulai dari Bung Hatta.
Sang Proklamator kelahiran Bukittinggi ini adalah sosok yang dari dulu ku idolakan. Masih segar diingatanku, waktu masih duduk di bangku SMP, saat teman-teman pergi kumpul-kumpul di Jam Gadang Bukittinggi sepulang sekolah, aku pergi ke rumah kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi. Berkali-kali pun aku kesana, tak pernah ada rasa bosan walaupun bentuknya tak pernah berubah. Saat berada di rumah kelahiran Bung Hatta aku selalu merasa nyaman, dan perasaanku tenang, walaupun cuaca diluar sedang panas dan jalanan ribut.
Bung Hatta yang dikenal sebagai pemimpin yang ‘humble’, dekat dengan masyarakat, dan tak pernah menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Bahkan, tabungan pribadi beliau hanya cukup untuk membeli mesin jahit karena beliau selalu memberi bantuan pada masyarakat yang datang ke rumah karena kesulitan ekonomi. Itu hanya contoh kecil dari keteladan beliau.
Lalu Pak Hoegeng.
Seorang mantan Kapolri di tahun 60-an. Beliau dikenal sangat dekat dengan masyarakat. Tidak jauh-jauh dari Bung Hatta keteladanan yang beliau berikan. Sampai-sampai beliau hanya mampu membeli sebuah rumah untuk keluarga pada saat beliau mendekati masa pensiun. Saat perjalanan dinas beliau ke Hawai, saat itu istri beliau minta diajak. Tapi apa jawaban beliau? “Saya pergi untuk bekerja. Kalau bekerja ya bekerja, kalau mau jalan-jalan itu beda. Ini uang Negara”
Sangat berbeda dengan yang dilakukan pemimpin rakyat saat ini yang memanfaatkan perjalanan dinas untuk mengajak keluarga jalan-jalan, bahkan yang paling miris, sengaja dibuat-buat perjalan dinas karena ada tujuan tertentu. Wallahualam.
Metro TV juga menyorot beberapa pemimpin saat ini yang bisa dijadikan teladan.
Adalah Dahlan Iskan.
Beliau adalah seorang pemimpin yang sangat dekat dengan warga. Beliau pernah naik KRL saat pergi ke gedung DPR untuk bekerja, bahkan beliau pernah naik ojek tanpa ditemani bodyguard seperti pejabat-pejabat lain. Sewaktu beliau masih sebagai Dirut PT.PLN, beliau tidak menggunakan rumah dinas dan tidak memakai mobil dinas, bahkan beliau tidak mengambil gaji selama menjabat. Beliau sering minum dan makan diwarung-warung emperan pinggir jalan. Semua itu beliau lakukan untuk mendengar aspirasi rakyat dan pendapat-pendapat rakyat agar kesejahteraan rakyat terjamin.
Selain itu, juga Joko Widodo.
Yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah keberhasilan beliau dalam memindahkan PKL yang biasa berjualan dipinggir jalan ke tempat yang sudah disediakan TANPA KEKERASAN. Para pedagang dengan suka rela pindah ke tempat baru karena sudah diskusi dengan Bapak Walikota Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, dan bisa menerima alasan dipindahkan. Saat di daerah lain santer terdengar bentrok warga dengan satpol PP tentang penggusuran, bahkan terjadi kekerasan fisik, beliau justru melakukan dengan pendekatan kekeluargaan. Sangat banyak teladan yang bisa di ambil dari seorang Jokowi.
Ahh…
Sangat ingin ku mendengar berita baik di negeri ini.
Semoga pemimpin yang diprediksi oleh kaum Indigo, yang katanya Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang mengerti rakyat dan sangat peduli terhadap rakyat, akan terwujud. Amin.
Demi Bangsa dan Negara!
Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah atau tidak pada tempatnya, ku hanya menumpahkan isi hati yang selalu mendesak ingin keluar. Semoga ke depan kita semua lebih baik. Amin
v(^_^)v
twitter : @yellyMomo
FB: Yelly Monika




No comments:
Post a Comment